JAKARTA – Insiden mengerikan terjadi di Bangkok, Thailand, ketika sebuah gedung pencakar langit yang masih dalam tahap pembangunan runtuh akibat gempa bumi yang mengguncang kota tersebut.
Tragedi ini menewaskan sedikitnya 13 orang, melukai belasan lainnya, dan menyebabkan puluhan orang dilaporkan masih hilang.
Namun di tengah puing-puing dan kepanikan, muncul secercah harapan. Tim penyelamat berhasil mendeteksi sekitar 70 tanda kehidupan menggunakan alat sensor canggih yang dirancang untuk menemukan suara atau gerakan manusia di bawah reruntuhan.
Tantangan Besar dalam Proses Penyelamatan dalam Tragedi Gedung Ambruk di Bangkok
Gedung yang ambruk merupakan bangunan milik Kantor Audit Negara Thailand dengan tinggi mencapai 30 lantai.
Sayangnya, karena gedung tersebut masih dalam proses konstruksi, belum tersedia blue print lengkap yang dapat digunakan untuk membantu upaya evakuasi.
Hal ini menyulitkan tim penyelamat dalam memahami struktur internal bangunan dan lokasi korban yang mungkin masih terjebak.
Selain itu, dinding-dinding bangunan memiliki ketebalan hampir satu meter. Kondisi ini membuat proses penggalian menjadi lambat dan penuh risiko.
Petugas tidak bisa serta-merta menggunakan alat berat, karena getaran dan tekanan dari mesin berisiko menimbulkan keruntuhan lebih lanjut yang bisa mengancam keselamatan para korban yang masih hidup.
Para pekerja dan relawan pun harus bekerja secara manual, mengangkat puing satu per satu dari atas ke bawah.
Mereka harus sangat berhati-hati, menghindari kerusakan tambahan sambil tetap bergerak cepat karena waktu sangat berharga dalam situasi seperti ini.
Proses Penyelamatan Masuki Hari Kelima Tragedi Gedung Ambruk di Bangkok
Hari demi hari berlalu, dan proses pencarian kini telah memasuki hari kelima. Meski kondisi lapangan sangat berat, semangat tim penyelamat tidak surut.
Mereka terus berupaya menjangkau area-area yang terdeteksi memiliki sinyal kehidupan dari alat sensor, berharap bisa menemukan korban selamat.
Pemerintah Kota Bangkok melaporkan 13 korban jiwa dan 19 orang terluka. Namun jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah, mengingat banyak pekerja yang masih dinyatakan hilang.
Pertanyaan Besar tentang Penyebab Runtuhnya Gedung
Tragedi ini menimbulkan pertanyaan serius dari berbagai pihak. Gedung pencakar langit tersebut diketahui dibangun oleh perusahaan kontraktor asal Tiongkok, dan menjadi sorotan karena runtuh hanya dalam waktu singkat setelah gempa, padahal masih dalam tahap pembangunan.
Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, menyampaikan kekhawatirannya secara terbuka. Ia mempertanyakan bagaimana proses desain dan persetujuan bangunan tersebut bisa terjadi. “Ini bukan gedung pencakar langit pertama di Thailand. Mengapa bisa ambruk seperti ini?” ujarnya kepada media.
Shinawatra juga menekankan pentingnya melakukan investigasi menyeluruh, untuk mengetahui di mana letak kesalahan—apakah dalam perencanaan, pengawasan konstruksi, atau penggunaan material.
Evaluasi Sistem Konstruksi dan Regulasi Bangunan Gedung Ambruk di Bangkok
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan dunia konstruksi di Thailand maupun negara lainnya. Ketika membangun gedung bertingkat tinggi, sangat penting untuk memperhatikan standar keamanan yang ketat, mulai dari perencanaan desain, pemilihan bahan bangunan, hingga pengawasan proyek secara keseluruhan.
Banyak pihak kini mendesak pemerintah Thailand untuk mengevaluasi ulang regulasi konstruksi gedung tinggi, terutama yang berada di kawasan rawan gempa.
Selain itu, kerja sama dengan perusahaan internasional juga perlu diawasi lebih ketat agar tidak ada kelalaian yang bisa mengancam nyawa masyarakat.
Doa dan Harapan untuk Korban Tragedi Gedung Ambruk di Bangkok, Thailand
Hingga saat ini, tim penyelamat terus berpacu dengan waktu. Masyarakat Thailand dan dunia internasional berharap akan ada keajaiban di balik reruntuhan beton, dan para korban yang masih hidup bisa segera ditemukan dan diselamatkan.
Kita semua berharap proses penyelamatan berjalan lancar dan tidak ada lagi korban jiwa yang bertambah. Peristiwa ini juga menjadi momentum penting untuk memperbaiki sistem konstruksi demi mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.
*BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS