 |
Legenda Tinju Dunia George Foreman Meninggal di Usia 76 Tahun, Pernah Satu Ring dengan Muhammad Ali. |
JAKARTA - George Foreman, mantan juara dunia tinju kelas berat, meninggal dunia pada usia 76 tahun setelah menjalani karier gemilang sebagai atlet, pendeta, dan pengusaha. Kabar duka ini diumumkan oleh keluarganya pada Sabtu pagi melalui akun Instagram mereka, yang menyebutkan bahwa Foreman meninggal dunia "dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai" pada malam sebelumnya.
Dalam pernyataan tersebut, keluarga Foreman mengenang sosoknya sebagai "seorang pendeta yang penuh devosi, suami yang setia, ayah yang penuh kasih, dan kakek serta buyut yang bangga," dan menambahkan bahwa ia menjalani hidup yang "ditandai dengan iman yang teguh, kerendahan hati, dan tujuan hidup yang jelas."
Foreman dikenal sebagai seorang "humanis, Olympian, dan dua kali juara dunia kelas berat." Ia sangat dihormati di seluruh dunia sebagai seorang yang penuh disiplin, keyakinan, dan perlindungan terhadap warisannya. Selama hidupnya, Foreman berjuang tanpa lelah untuk menjaga nama baiknya, terutama untuk keluarganya.
Awal Kehidupan yang Berat dan Perjalanan ke Dunia Tinju
 |
Legenda Tinju Dunia George Foreman Meninggal di Usia 76 Tahun, Pernah Satu Ring dengan Muhammad Ali. |
George Foreman lahir di Marshall, Texas, pada tahun 1949. Keluarganya kemudian pindah ke Houston, di mana ia tumbuh besar dalam kemiskinan di selatan Amerika yang masih terpisah secara rasial. Di masa muda, Foreman bahkan sempat putus sekolah menengah pertama dan terlibat dalam kejahatan jalanan, menggunakan ukuran tubuh dan kekuatannya dalam aksi perampokan.
Pada usia 16 tahun, setelah bergabung dengan Job Corps sebuah program yang bagian dari reformasi "Great Society" yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Lyndon B. Johnson—Foreman diberi dorongan untuk mengalihkan amarah dan kekuatannya ke dalam dunia tinju. Pelatihan ini mengubah hidupnya secara total.
Mencapai Puncak Karier Tinju
Pada usia 19 tahun, Foreman sudah berhasil meraih medali emas tinju kelas berat di Olimpiade 1968 di Mexico City, dalam pertandingan amatir ke-25-nya. Kemenangan ini menjadi titik balik yang membawanya ke dunia tinju profesional.
Pada tahun 1973, Foreman meraih gelar juara dunia kelas berat pertamanya setelah mengalahkan juara bertahan saat itu, Joe Frazier. Kemenangan ini menandai awal dari perjalanan panjang Foreman dalam mengukir sejarah dunia tinju.
Legasi di Luar Ring Tinju
Selain sukses di dunia tinju, Foreman juga memiliki kiprah luar biasa di luar ring. Setelah pensiun dari tinju, ia menjadi seorang pendeta yang sangat dihormati, dengan banyak orang mengagumi keyakinannya yang kuat dan komitmennya untuk menyebarkan pesan kasih sayang dan pengampunan.
Tak hanya itu, Foreman juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses, terutama melalui produk pembuat panggangan listrik yang menggunakan namanya, "George Foreman Grill." Produk ini sukses besar dan membuatnya menjadi salah satu figur yang dikenal luas tidak hanya di kalangan penggemar tinju, tetapi juga masyarakat umum.
Warisan yang Tak Terlupakan
George Foreman meninggalkan warisan yang tak hanya berhubungan dengan prestasinya di dunia tinju, tetapi juga pengaruh positif yang ia berikan dalam kehidupan banyak orang. Sebagai seorang ayah, kakek, dan buyut, ia dikenal sangat mencintai keluarganya, dan akan selalu dikenang sebagai seorang yang disiplin, penuh keyakinan, serta berjuang untuk kebaikan orang lain.
Meskipun telah pergi, kisah hidup dan prestasi George Foreman akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah olahraga dunia yang menginspirasi banyak orang. Ia akan selalu dihormati sebagai salah satu petinju terbesar sepanjang masa yang tak hanya berprestasi di ring, tetapi juga di kehidupan yang lebih luas.
George Foreman: Legenda Tinju dengan Karier Spektakuler dan Perjalanan Inspiratif
George Foreman adalah salah satu nama besar dalam dunia tinju yang dikenal dengan kekuatan pukulannya yang luar biasa dan perjalanan hidupnya yang penuh inspirasi. Dari seorang petinju muda berbakat hingga menjadi juara dunia, lalu mengalami kebangkitan luar biasa di usia yang tidak lagi muda, kisah Foreman menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah olahraga.
Awal Karier dan Kebangkitan sebagai Juara Dunia
George Edward Foreman lahir pada 10 Januari 1949 di Marshall, Texas, Amerika Serikat. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang keras dan sempat terjerumus ke dalam kehidupan jalanan. Namun, segalanya berubah ketika ia bergabung dengan program Job Corps, yang membantunya menemukan minat dalam dunia tinju.
Pada Olimpiade 1968 di Meksiko, Foreman meraih medali emas di kelas berat, prestasi yang membuka jalannya ke dunia tinju profesional. Hanya dalam beberapa tahun, ia berhasil naik ke puncak dengan gaya bertinju agresif dan pukulan yang sangat kuat.
Pada tahun 1973, Foreman mencapai puncak kejayaannya dengan mengalahkan Joe Frazier dalam pertarungan bersejarah di Kingston, Jamaika. Kemenangan KO di ronde kedua ini membuatnya menjadi juara dunia kelas berat versi WBA dan WBC. Kekuatan dan dominasinya di atas ring membuat banyak orang percaya bahwa ia tak terkalahkan.
Pertarungan Legendaris Melawan Muhammad Ali
 |
Pertarungan Legendaris Melawan Muhammad Ali. |
Namun, kejayaan Foreman tidak berlangsung lama. Pada 30 Oktober 1974, ia menghadapi Muhammad Ali dalam pertarungan legendaris yang dikenal sebagai "Rumble in the Jungle" di Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo). Foreman yang kala itu sangat dominan diunggulkan untuk menang, tetapi Ali menggunakan strategi "rope-a-dope" membiarkan Foreman menghabiskan energinya sebelum melancarkan serangan balik. Hasilnya, Foreman tumbang di ronde kedelapan, kehilangan gelarnya, dan mengalami kekalahan pertama dalam kariernya.
Pensiun, Kebangkitan, dan Kejutan Besar di Dunia Tinju
Setelah beberapa kekalahan berikutnya, Foreman memutuskan untuk pensiun pada tahun 1977 dan beralih ke kehidupan sebagai pendeta serta pengusaha. Namun, pada tahun 1987, di usia 38 tahun, ia membuat keputusan mengejutkan dengan kembali ke ring tinju.
Awalnya, banyak yang meragukan kemampuannya, tetapi Foreman membuktikan bahwa ia masih memiliki kekuatan luar biasa. Pada tahun 1994, dalam usia 45 tahun, ia mencetak sejarah dengan mengalahkan Michael Moorer dan merebut kembali gelar juara dunia kelas berat. Kemenangan ini menjadikannya petinju tertua yang pernah memenangkan gelar kelas berat, sebuah pencapaian yang hingga kini sulit ditandingi.
Kesuksesan di Luar Ring dan Warisan George Foreman
Selain tinju, Foreman juga sukses sebagai pengusaha. Ia dikenal sebagai pencipta "George Foreman Grill," alat pemanggang yang sangat populer dan terjual lebih dari 100 juta unit di seluruh dunia. Keberhasilannya ini menjadikannya salah satu mantan atlet yang paling sukses secara finansial.
Hingga kini, nama George Foreman tetap melegenda, bukan hanya karena pencapaiannya di ring, tetapi juga karena kisah hidupnya yang penuh inspirasi. Dari petinju muda yang berjuang dari nol, mengalami kejatuhan, hingga bangkit kembali dan menaklukkan dunia, Foreman adalah contoh nyata bahwa semangat juang tidak mengenal batas usia.
Kisah George Foreman membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan keyakinan, seseorang dapat mengatasi rintangan dan mencapai puncak kesuksesan berkali-kali dalam hidupnya. Itulah mengapa ia tetap dikenang sebagai salah satu legenda terbesar dalam sejarah tinju dunia.