Berita Borneotribun.com: Nasa Hari ini
Tampilkan postingan dengan label Nasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Maret 2025

NASA Meluncurkan Jaringan 4G di Bulan Setelah Pendaratan Modul "Athena"

NASA Meluncurkan Jaringan 4G di Bulan Setelah Pendaratan Modul Athena
NASA Meluncurkan Jaringan 4G di Bulan Setelah Pendaratan Modul "Athena".

Jakarta - NASA kembali mencetak sejarah dengan berhasil mengaktifkan jaringan seluler 4G pertama di Bulan. Teknologi ini dikembangkan oleh Nokia dan dikirim ke Kutub Selatan Bulan menggunakan modul pendaratan "Athena", yang dibuat oleh perusahaan swasta Intuitive Machines.

Pendaratan Tidak Sempurna, Tapi Jaringan Tetap Berfungsi

Meskipun pendaratan modul "Athena" tidak berlangsung sempurna—karena posisi modul sedikit miring—para insinyur memastikan bahwa jaringan 4G tetap berfungsi dengan baik. 

Dalam waktu dekat, NASA akan mulai melakukan pengujian jaringan ini, yang nantinya akan menjadi bagian penting dari misi luar angkasa di masa depan.

Apa Fungsi Jaringan 4G di Bulan?

Banyak yang mungkin bertanya-tanya, apakah kita bisa menelepon ke Bumi menggunakan jaringan ini? Jawabannya tidak. 

Jaringan 4G di Bulan bukan untuk komunikasi langsung ke Bumi, tetapi lebih difokuskan pada:

  • Menyediakan konektivitas bagi para astronot di misi "Artemis 3".
  • Menghubungkan berbagai peralatan penelitian di Bulan.
  • Memfasilitasi komunikasi antar-robot seperti rover MAPP dan drone Micro Nova Hopper.

Teknologi di Balik Jaringan 4G Bulan

Perangkat jaringan yang digunakan oleh Nokia dikemas dalam modul "Network-in-a-Box" (Jaringan dalam Kotak). 

Modul ini memiliki semua komponen yang diperlukan untuk membangun jaringan seluler, kecuali antena dan sumber daya. 

Antena dipasang di modul pendaratan, sedangkan tenaga listrik disuplai oleh panel surya.

Namun, jaringan ini hanya akan bertahan selama beberapa hari, karena peralatan yang dikirim kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan menghadapi malam pertama di Bulan yang ekstrem.

Langkah Awal Menuju Infrastruktur Komunikasi Luar Angkasa

Peluncuran jaringan 4G ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem komunikasi yang lebih canggih di Bulan. 

Ke depannya, Nokia berencana mengembangkan jaringan 4G atau bahkan 5G yang lebih luas, yang dapat mencakup pangkalan penelitian "Artemis".

NASA juga tengah mengembangkan teknologi komunikasi untuk astronot, seperti integrasi jaringan seluler ke dalam baju antariksa terbaru dari Axiom. 

Hal ini akan memungkinkan astronot untuk tetap terhubung satu sama lain dan dengan tim di Bumi secara lebih efisien.

Tantangan dan Hambatan dalam Penggunaan 4G di Bulan

Meskipun inovasi ini terdengar menarik, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi:

  1. Interferensi dengan Radio Astronomi – Frekuensi LTE yang digunakan sebagian tumpang tindih dengan frekuensi yang dipakai untuk pengamatan luar angkasa, yang dapat mengganggu penelitian ilmiah.
  2. Regulasi Frekuensi Internasional – Hingga saat ini, frekuensi 4G belum secara resmi masuk dalam daftar gelombang yang diizinkan untuk misi luar angkasa. Oleh karena itu, Nokia hanya mendapat izin khusus untuk eksperimen ini. Di masa depan, mereka perlu menyesuaikan frekuensi agar tetap kompatibel dengan standar global.

Masa Depan Komunikasi di Bulan

Langkah NASA dan Nokia dalam menghadirkan jaringan 4G di Bulan adalah tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa. 

Dengan semakin majunya teknologi komunikasi, kemungkinan besar kita akan melihat jaringan yang lebih kuat dan tahan lama di Bulan. 

Hal ini bukan hanya membantu misi eksplorasi, tetapi juga membuka peluang bagi masa depan kolonisasi manusia di luar angkasa.

Bagaimana menurutmu? Apakah jaringan 4G di Bulan akan membuka jalan bagi kehidupan manusia di luar Bumi? Yuk, diskusikan di kolom komentar!

Senin, 03 Maret 2025

Wahana Blue Ghost Sukses Mendarat di Bulan Membawa Kiriman Khusus untuk NASA

Wahana Blue Ghost Sukses Mendarat di Bulan Membawa Kiriman Khusus untuk NASA
Blue Ghost setelah mendarat di bulan dengan pengiriman khusus untuk NASA, 2 Maret 2025. (NASA/Firefly Aerospace via AP)
JAKARTA - Sebuah pendarat bulan swasta bernama "Blue Ghost" sukses mendarat dengan stabil di Bulan pada Minggu (2/3). 

Keberhasilan ini menjadikan Firefly Aerospace sebagai perusahaan swasta pertama yang berhasil menempatkan pesawat ruang angkasa di Bulan tanpa mengalami kecelakaan atau tumbang.

Misi ini membawa berbagai peralatan penting untuk NASA, termasuk bor, ruang hampa udara, dan sejumlah eksperimen lainnya. 

Keberhasilan pendaratan ini menambah daftar perusahaan yang berupaya mengembangkan bisnis eksplorasi Bulan sebelum misi astronaut masa depan.

Pendaratan Autopilot di Cekungan Vulkanik Kuno

Pendarat "Blue Ghost" melakukan perjalanan sejauh 360.000 kilometer sebelum akhirnya turun secara autopilot menuju permukaan Bulan. Titik pendaratan yang dipilih adalah sebuah lereng kubah vulkanik kuno di cekungan tumbukan di tepi timur laut sisi dekat Bulan.

Tim Mission Control Firefly Aerospace yang berbasis di luar Austin, Texas, mengonfirmasi keberhasilan pendaratan ini. 

Kepala teknisi pendarat, Will Coogan, dengan bangga melaporkan, "Kami berhasil melakukan pendaratan. Kami berada di Bulan."

Misi Penting untuk Eksplorasi Masa Depan

Keberhasilan Firefly Aerospace menunjukkan bahwa perusahaan swasta memiliki potensi besar dalam mendukung eksplorasi ruang angkasa. 

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang ikut serta dalam eksplorasi Bulan, diharapkan akan semakin banyak inovasi yang mendukung misi masa depan, termasuk pengiriman manusia kembali ke satelit alami Bumi ini.

Misi "Blue Ghost" ini juga menjadi langkah awal dalam menjadikan Bulan sebagai pusat penelitian dan eksplorasi yang lebih luas. 

NASA dan berbagai pihak lainnya terus mencari cara untuk memanfaatkan sumber daya di Bulan guna mendukung misi luar angkasa yang lebih ambisius di masa depan, termasuk perjalanan ke Mars.

Dengan pencapaian ini, Firefly Aerospace membuktikan bahwa mereka siap bersaing dalam industri eksplorasi luar angkasa yang semakin berkembang. Kita tunggu inovasi dan misi luar angkasa menarik lainnya di masa depan!

Pendaratan yang tegak dan stabil menjadikan Firefly – sebuah perusahaan rintisan yang didirikan satu dekade lalu – sebagai perusahaan swasta pertama yang menempatkan pesawat ruang angkasa di Bulan tanpa jatuh atau terjatuh. 

Sejauh ini baru lima negara yang mengklaim berhasil melakukan pendaratan di Bulan, yaitu Rusia, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang.

Setengah jam setelah mendarat, “Blue Ghost” mulai mengirimkan kembali gambar-gambar dari permukaan, yang pertama adalah swafoto (selfie) yang agak tertutup oleh sinar matahari.

Dua perusahaan pendarat lainnya sedang mengejar “Blue Ghost,” dan perusahaan berikutnya diperkirakan akan bergabung di bulan pada akhir minggu ini.

Piranti Pendarat Lebih Stabil, NASA Rogoh Kocek Lebih Dalam

“Blue Ghost” dinamai berdasarkan spesies kunang-kunang langka di AS, dengan ukuran dan bentuk yang sesuai. Pendarat jongkok berkaki empat ini memiliki tinggi 2 meter dan lebar 3,5 meter, sehingga lebih stabil.

Diluncurkan pada pertengahan Januari dari Florida, pendarat itu telah melakukan 10 percobaan ke bulan untuk NASA.

NASA membayar US$101 juta untuk pengiriman tersebut, ditambah US$44 juta untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di dalamnya. 

Ini adalah misi ketiga di bawah program pengiriman komersial ke bulan NASA, yang dimaksudkan untuk memicu kompetisi bisnis swasta ke bulan, sambil mencari informasi tambahan sebelum mengirim para astronot di akhir dekade ini.

Ray Allensworth dari Firefly mengatakan pendarat itu melewati sejumlah bahaya, termasuk batu besar, untuk mendarat dengan aman.

Demo tersebut akan berlangsung selama dua minggu, sebelum siang hari di bulan berakhir dan pendarat dinonaktifkan.

“Blue Ghost” membawa alat vakum untuk menyedot material tak terkonsolidasi yang ditemukan di permukaan Bulanguna dianalisis lebih jauh, dan bor untuk mengukur suhu sedalam 3 meter di bawah permukaan. 

Ada pula berbagai perangkat untuk menghilangkan debu bulan yang bersifat abrasif, yang menjadi momok bagi para penjelajah Apollo milik NASA, yang melekat di seluruh pakaian dan peralatan antariksa mereka.

Dalam perjalanannya ke bulan, “Blue Ghost” memancarkan kembali gambar-gambar indah dari planet asalnya. 

Pendarat ini sempat beraksi saat berada di orbit mengelilingi bulan, dengan gambar lebih rinci tentang permukaan bulan yang bopeng abu-abu. 

Pada saat yang sama, penerima di dalam pesawat melacak dan memperoleh sinyal dari GPS AS dan konstelasi Galileo Eropa, sebuah langkah maju yang menggembirakan dalam navigasi penjelajah masa depan.

Pendaratan ini membuka jalan bagi banyak pihak yang sedang mengupayakan bisnis ke Bulan.

Pendarat Kedua Siap Mendarat pada Kamis

Pendarat lainnya – yaitu sebuah pesawat setinggi 15 kaki yang tinggi dan kurus, yang dibangun dan dioperasikan oleh Intuitive Machines yang berbasis di Houston – akan mendarat di bulan pada Kamis (6/3). 

Ia mengincar bagian bawah bulan, yang terletak hanya 160 kilometer dari kutub selatan. 

Jarak itu lebih dekat ke kutub dibandingkan yang dicapai perusahaan tahun lalu dengan pendarat pertamanya, yang bagian kakinya patah dan terbalik.

Meski terjatuh, pendarat pertama Intuitive Machines itu berhasil membawa Amerika Serikat kembali ke bulan untuk pertama kalinya, sejak astronaut NASA menutup program Apollo pada 972.

Pendarat Ketiga dari Jepang akan Tiba Juni

Pendarat ketiga milik perusahaan Jepang, ispace, baru akan mendarat tiga bulan lagi. Piranti ini menumpang roket “Blue Ghost” dari Cape Canaveral pada 15 Januari lalu, dengan rute yang lebih panjang dan berangin.

Sebagaimana halnya Intuitive Machines, ispace juga berusaha mendarat di bulan untuk kedua kalinya. Pendarat pertamanya pada 2023 jatuh.

Bulan dipenuhi puing-puing tidak hanya dari jatuhnya piranti ispace tersebut, tapi juga puluhan piranti lain yang gagal selama beberapa dekade. [em/ab]

Oleh: VOA Indonesia
Editor: Yakop

Rabu, 30 Juni 2021

Studi Terbaru Sebut Tidak Mungkin Ada Kehidupan di Awan Venus

Studi Terbaru Sebut Tidak Mungkin Ada Kehidupan di Awan Venus
Planet Venus dibuat dengan data dari pesawat ruang angkasa Magellan dan Pioneer Venus Orbiter.

BORNEOTRIBUN.COM - Sebuah studi baru mengesampingkan kemungkinan adanya kehidupan di awan Venus.  

Para ilmuwan dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) melaporkan, Senin (28/6), hampir tidak ada cukup uap air di awan planet yang panas tersebut untuk mendukung kehidupan seperti yang kita ketahui. 

Tim penelitian menyelidiki masalah ini menyusul pengumuman pada September lalu oleh peneliti lain bahwa setelah ada organisme kecil yang aneh, yang mungkin bersembunyi di awan tebal Venus yang dipenuhi asam sulfat. 

Melalui pengamatan pesawat ruang angkasa, kelompok riset terbaru menemukan tingkat kandungan air di Venus lebih dari 100 kali lebih rendah untuk mendukung kehidupan seperti Bumi.  

"Ini hampir di bawah skala dan jarak yang tak terjembatani dari apa yang dibutuhkan kehidupan untuk aktif," kata penulis utama, John Hallsworth, ahli mikrobiologi di Queen's University Belfast di Irlandia Utara, sebagaimana dilansir dari Associated Press.  

Tim John meneliti mikroba yang paling toleran terhadap lingkungan kering dan juga paling toleran terhadap asam di Bumi - dan mereka "tidak akan memiliki peluang (untuk hidup) di Venus."  

Meski penemuan terbaru menepis kemungkinan Venus untuk organisme berbasis air, para ilmuwan juga mengidentifikasi planet lain, Jupiter, yang memiliki kandungan air yang cukup di awan dan suhu atmosfer yang tepat untuk mendukung kehidupan.  

"Saya tidak mengindikasikan bahwa ada kehidupan di Jupiter dan saya bahkan tidak mengindikasikan kehidupan bisa ada di sana karena akan membutuhkan hara untuk berada di sana. Kami tidak dapat memastikannya," Hallsworth menekankan kepada wartawan. 

“Namun tetap saja itu adalah temuan yang penting dan menarik dan sama sekali tidak terduga." 

Hallsworth dan ahli astrobiologi NASA Chris McKay, rekan penulis pada makalah penelitian yang diterbitkan Senin (28/6) di jurnal Nature Astronomy mengatakan perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk memastikan apakah kehidupan mikroba mungkin ada di dalam awan Jupiter.  

Adapun Venus, tiga pesawat ruang angkasa baru akan menuju ke sana akhir dekade ini dan awal dekade berikutnya. 

Pesawat tersebut dua di antaranya dimiliki Badan Antariksa AS, NASA, dan satu oleh Badan Antariksa Eropa, ESA. 

Hallsworth dan dan McKay tidak mengharapkan hasil mereka terkait aktivitas air yang tidak dapat dihuni di planet terpanas tata surya kita tersebut akan berubah.  

Para ilmuwan yang melakukan studi pada September mengisyaratkan kemungkinan adanya kehidupan di awan Vesuvian berdasarkan temuan mereka berdasarkan keberadaan fosfin gas beracun. 

Di Bumi, gas tersebut terkait dengan kehidupan. Para peneliti berpendapat bahwa tingkat fosfin Venus terlalu tinggi untuk menjadi asal geologis. [ah/au/ft]

Oleh: VOA

Rabu, 09 Juni 2021

Badan Antariksa Nasional AS Kirim Cumi-cumi Bobtail yang Baru Menetas ke Stasiun Antariksa

Badan Antariksa Nasional AS Kirim Cumi-cumi Bobtail yang Baru Menetas ke Stasiun Antariksa
Ilustrasi Tardigrade atau beruang air. (iStockphoto/dottedhippo)

BorneoTribun Internasional -- Badan Antariksa Nasional AS (NASA) mengirim koleksi cumi-cumi bobtail yang baru menetas ke Stasiun Antariksa Internasional. Para peneliti berharap percobaan ini membantu memahami sejauh mana penerbangan ke luar angkasa memengaruhi interaksi antara mikroba yang menguntungkan dan hewan inang mereka.

Pesawat ulang alik antariksa SpaceX meluncurkan misi Layanan Pasokan Komersial ke-22 (Commercial Resupply Services - disingkat CRS-22) - ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) pada Kamis (3 Juni) lalu.

Misi tersebut mengangkut lebih dari 3.300 kilogram kargo. Pesawat antariksa itu juga membawa pasokan penelitian dan perangkat keras kendaraan, termasuk dua panel surya baru yang pertama.

Misi CRS juga mencakup koleksi 128 cumi bobtail yang baru menetas. Anak-anak cumi ini adalah bagian dari eksperimen yang diberi nama Understanding of Microgravity on Animal-Microbe Interactions (UMAMI).

Peneliti berharap eksperimen ini dapat membantu mereka memahami bagaimana penerbangan antariksa memengaruhi interaksi antara mikroba yang menguntungkan dan hewan inang mereka, kata Jamie Foster, profesor mikrobiologi pada Universitas Florida.

"Proyek ini untuk mencoba memahami bagaimana lingkungan antariksa, tekanan berada di antariksa, memengaruhi interaksi yang normal, menguntungkan, dan sehat, yang terjadi antara mikroba dan hewan inangnya," ungkapnya.

Cumi-cumi kecil itu menetas sehari sebelum diluncurkan. Mereka disimpan dalam tas kecil dengan katup untuk memungkinkan air laut masuk ke lingkungan mereka.

Ini bukan pertama kali cumi-cumi dikirim ke orbit. Hewan itu juga dibawa dalam perjalanan ke antariksa untuk percobaan pada tahun 2011.

"Cumi-cumi memiliki sistem kekebalan yang hampir sama seperti kita, manusia. Mereka lebih sederhana dan asosiasi atau interaksi dengan bakteri mereka juga lebih sederhana. Jadi, daripada ribuan jenis mikroba yang berinteraksi dengan manusia, pada cumi-cumi, hanya ada satu bakteri dan satu inang," lanjut Foster.

Foster menambahkan percobaan UMAMI bisa membantu peneliti memahami apakah, dan sejauh mana, penerbangan antariksa yang panjang memengaruhi kesehatan astronaut.

"Salah satu hal yang terjadi pada astronaut ketika mereka berada di antariksa adalah sistem kekebalan mereka dapat terganggu atau tidak teratur, dan itu bisa sangat berpotensi berbahaya kalau tidak dapat segera dibawa ke dokter atau tidak bisa mendapatkan bantuan. Jadi, kami benar-benar ingin memahami dampak penerbangan antariksa yang lama terhadap kesehatan hewan, misalnya terhadap sistem kekebalan tubuh," pungkasnya. [ka/lt]

Oleh: VOA

Senin, 10 Mei 2021

Memorabilia Astronaut Michael Collins Dipajang di Perpustakaan Kampus Virginia Tech

Memorabilia Astronaut Michael Collins Dipajang di Perpustakaan Kampus Virginia Tech
Astronot Apollo 11, Neil Armstrong, Michael Collins dan Edward "Buzz Aldrin berpose di file foto ini. (Foto: Reuters)

BorneoTribun Amerika -- Perpustakaan Universitas Virginia Tech memajang koleksi memorabilia astronaut Michael Collins yang ikut dalam misi pertama AS ke Bulan.

Perpustakaan Newman di Universitas Virginia Tech memiliki salah satu koleksi khusus dokumen, memorabilia, dan dokumen pribadi terlengkap dari misi Apollo 11, sebagian berkat sumbangan langsung dari astronaut Michael Collins.

Collins, yang menjadi pilot pesawat yang membawa Neil Armstrong dan Buzz Aldrin untuk melakukan pijakan kaki pertama bersejarah mereka di bulan pada tahun 1969, menurut keluarganya meninggal Rabu 28 April 2021 karena kanker.

"Koleksinya sendiri, adalah berkas-berkas dari Michael Collins, bahannya setengah kubik meter lebih, jadi cukup besar. Sekitar 39 kotak materi, kebanyakan kertas, yang mungkin dokumen NASA," kata Marc Brodsky, Layanan Umum Virginia Tech dan Pengarsip Referensi.

"Beberapa yang penting termasuk, misalnya, salinan rencana penerbangan Apollo 11 milik Collins sendiri yang ditanda tangani dan disebutnya sebagai 'The Real McCoy'. Ia menulisnya demikian dan menandatanganinya hanya untuk memberi tahu orang-orang bahwa catatan itu adalah yang asli," lanjutnya.

Neil Armstrong, kiri, terpilih menjadi manusia pertama di bulan dan berpose dengan Buzz Aldrin, tengah, dan Michael Collins, April 1969 (Foto: AP)

Saat Armstrong dan Aldrin turun ke permukaan bulan dari wahana pendarat di bulan, Eagle, Collins tetap berada di pesawat modul komando, Columbia. Brodsky mengatakan dengan mempelajari memorabilia ini orang akan mengenal lebih jauh sosok astronot Michael Collins,

"Kita memperoleh kekayaan yang luar biasa dan bisa mengetahui siapa Collins, saya rasa hanya dengan melihat bagaimana ia bekerja melakukan tugasnya dan manual pelatihannya sangat informatif. Ia memang lebih banyak berada di belakang layar, namun ada saat di mana ia memiliki kehidupan yang lebih produktif setelah masa di NASA daripada yang mungkin diketahui orang," papar Marc Brodsky.

Michael Collins menunggu sendirian selama hampir 28 jam sebelum Armstrong dan Aldrin menyelesaikan tugas mereka di permukaan bulan dan lepas landas di pendarat bulan.

Collins bertanggung jawab untuk menyatukan kembali dua pesawat antariksa itu sebelum para astronaut bisa mulai kembali ke Bumi.

Bagi Marc Brodsky, peran Collins membantu dua astronaut Neil Armstrong dan Buzz Aldrin pada misi AS pertama ke Bulan yang lebih dikenal dari pada dirinya, justru sangat berkesan di hatinya.

"Collins punya peran khusus, di hati saya, karena saya sering menggunakan materinya bersama mahasiswa, jadi saya mengenal koleksi ini dengan cukup baik. Kalau saja saya bisa berbicara langsung dengannya," katanya.

Sayangnya harapan Brodsky kandas karena kematian Collins.

Koleksi Collins di Perpustakaan Newman di kampus Virginia Tech. termasuk surat yang ditulis oleh Charles Lindbergh kepada Collins setelah menyelesaikan misi Apollo 11. Collins juga memberikan rencana penerbangan Apollo 11 ke universitas tersebut.

Tahun 2019 menjelang 50 tahun peringatan perjalanan ke Bulan, Michael Collins menceritakan awak Apollo 11 harus memutar pesawat mereka terus-menerus supaya satu sisi pesawat tidak "terbakar" matahari, sementara sisi yang lain membeku - yang berarti mereka tidak bisa melihat tujuan sampai mereka hampir tiba di Bulan.

Mantan Presiden AS Richard M.Nixon menyambut astronot Apollo 11 di atas U.S.S. Hornet di Samudera Pasifik pada Juli 1969. (Foto: Bill Taub/NASA)

Tetapi begitu menakjubkannya planet baru ini, Bulan berwarna pucat dibandingkan dengan apa yang mereka lihat di sisi lain: marmer biru (Bumi) yang tampak "rapuh" itu berhadapan dengan alam semesta yang hitam pekat, sebuah gambar yang sejak itu tidak bisa dilupakan astronaut Michael Collins.

"Ketika kami meluncur dan melihat bulan, itu seperti bola yang luar biasa," kata Collins yang ketika itu berusia 88 tahun kepada hadirin di Universitas George Washington.

Sementara astronaut AS Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjelajah permukaan bulan, mantan pilot pesawat tempur, Collins tetap berada di orbit bulan di mana ia berhubungan dengan stasiun pengendali di Bumi, untuk memberi mereka informasi terbaru mengenai posisinya.

Benda-benda dan berkas yang menjadi memorabilia Collins di Virginia Tech diharapkan akan menggugah para mahasiswa di kampus itu untuk mendapat inspirasi dari sosok astronaut yang namanya tidak setenar Neil Armstrong dan Buzz Aldrin itu. [my/lt]

Oleh: VOA

Kamis, 06 Mei 2021

SpaceX telah menerima lebih dari 500 ribu pra pemesanan Layanan internet satelit Starlink

SpaceX telah menerima lebih dari 500 ribu pra pemesanan Layanan internet satelit Starlink
Satelit Starlink milik Tesla (Teslarati)

BorneoTribun.com -- SpaceX telah menerima lebih dari 500 ribu pra pemesanan untuk layanan internet satelit Starlink dan mengantisipasi tidak ada masalah teknis memenuhi permintaan tersebut, kata pendiri Elon Musk pada hari Selasa (4/5).

"Satu-satunya batasan adalah kepadatan pengguna yang tinggi di wilayah perkotaan. Kemungkinan besar, semua 500 ribu awal akan menerima layanan. Lebih banyak tantangan saat kami masuk ke dalam beberapa juta pengguna," cuit Elon Musk.

Hal itu dia sampaikan menanggapi sebuah posting dari seorang reporter CNBC yang mengatakan deposit 99 dollar AS yang diambil SpaceX untuk layanan itu sepenuhnya dapat dikembalikan dan tidak menjamin layanan.

SpaceX belum menetapkan tanggal peluncuran layanan Starlink, tetapi layanan komersial itu kemungkinan tidak akan ditawarkan pada tahun 2020 seperti yang telah direncanakan sebelumnya, dilansir Reuters, Rabu.

Perusahaan berencana untuk nantinya menyebarkan total 12.000 satelit dan mengatakan konstelasi Starlink akan menelan biaya sekitar 10 miliar dollar AS.

Membangun dan mengirim roket ke luar angkasa adalah bisnis padat modal, tetapi dua orang terkaya di dunia, pendiri Amazon Jeff Bezos dan Musk, yang juga merupakan kepala produsen mobil Tesla Inc telah menginvestasikan miliaran dolar selama bertahun-tahun untuk membuat terobosan di pasar ini.

Musk dan Bezos telah berdebat secara terbuka mengenai rencana satelit yang bersaing.

Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) bulan lalu menyetujui rencana SpaceX untuk mengerahkan beberapa satelit Starlink di orbit bumi yang lebih rendah dari yang direncanakan, tetapi menyertakan sejumlah persyaratan untuk memastikan keamanan rencana tersebut.

SpaceX setuju untuk menerima bahwa satelit mereka mungkin mengalami gangguan dari satelit yang digunakan di bawah proyek satelit Sistem Kuiper Amazon.

Oleh: Antaranews

Selasa, 13 April 2021

UEA Pilih Perempuan Arab Pertama untuk Pelatihan Astronaut

UEA Pilih Perempuan Arab Pertama untuk Pelatihan Astronaut
Nora al-Matrooshi, perempuan Arab pertama yang terpilih untuk menjalani pelatihan astronaut, Uni Emirat Arab, 6 April 2021.

BorneoTribun UEA, Internasional -- Uni Emirat Arab telah memilih perempuan Arab pertama yang akan berlatih sebagai astronaut saat negara Teluk itu dengan cepat mengembangkan perjalanan antariksa untuk mendiversifikasi ekonominya.

Kantor berita Reuters melaporkan, Nora al-Matrooshi, warga negara UEA, adalah lulusan teknik mesin berusia 27 tahun yang saat ini bekerja untuk Perusahaan Konstruksi Perminyakan Nasional Abu Dhabi. Dia akan bergabung dengan Kelas Kandidat Astronaut Angkatan 2021 yang diselenggarakan oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space Administration/NASA).

UEA menggunakan program antariksanya untuk mengembangkan kemampuan ilmiah dan teknologinya serta mengurangi ketergantungannya pada minyak.

Pada Februari, sebuah wahana antariksa UEA mencapai orbit planet Mars, yang merupakan ekspedisi antarplanet pertama di dunia Arab. UEA berencana meluncurkan wahana penjelajah Bulan pada 2024 dan bahkan visi untuk permukiman di Mars pada 2117.

Matrooshi akan bergabung bersama astonaut UEA lainnya, Mohammed al-Mulla. Dengan demikian, ada total empat peserta dalam Program Astronaut, salah satunya adalah Hazza al-Mansouri, yang menjadi orang Emirat pertama yang melakukan perjalanan luar angkasa saat terbang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2019.

Mohammed Bin Rashid Space Center (MBRSC), yang berbasis di Dubai, mengatakan Nora adalah salah satu dari 4.300 pelamar yang menjalani seleksi berdasarkan kemampuan ilmiah, pendidikan dan pengalaman praktis, dan kemudian pada penilaian fisik, psikologis dan medis.

UEA meluncurkan Program Luar Angkasa Nasional pada 2017 untuk mengembangkan keahlian lokal. Populasinya yang berjumlah 9,4 juta, sebagian besar adalah pekerja migran, tidak memiliki basis ilmiah dan industri seperti negara-negara utama dalam penjelajahan antariksa. [na/ft]

Oleh: VOA

Senin, 20 April 2020

Planet Mirip Bumi Ukuran dan Temperaturnya Serupa

Exoplanet Kepler-1649c Ditemukan, Ukuran dan Suhunya Mirip Bumi (Foto: NASA/Ames Research Center/Daniel Rutter)

BORNEOTRIBUN -- Kepler, wahana pencari planet baru milik NASA mungkin telah dipensiunkan. Tapi penemuannya tetap berguna dan menarik perhatian astronom.

Ilmuwan yang menganalisis data dari Keppler menemukan sesuatu yang mengejutkan, yaitu exoplanet yang memiliki ukuran dan suhu mirip Bumi. Exoplanet tersebut dinamakan Kepler-1649 dan lokasinya berada 300 tahun cahaya dari Bumi.

Dikutip dari CNN, Jumat (17/4/2020) Kepler-1649c berukuran 1,06 kali lebih besar dari Bumi dan menerima sekitar 75% cahaya yang didapat Bumi dari Matahari. Ini menandakan temperatur permukaan di exoplanet tersebut bisa jadi mirip seperti Bumi.

Lokasi planet ini juga berada di lokasi yang tepat dengan bintangnya, dengan jarak yang sesuai untuk agar air bisa muncul di permukaannya. Ini juga menandakan bahwa Kepler-1649c bisa mendukung kehidupan.

Tapi exoplanet ini mengelilingi bintang katai merah yang jauh lebih kecil dan lebih dingin dibanding Matahari kita. Jaraknya dengan bintang tersebut juga jauh lebih dekat dibanding jarak Bumi ke Matahari.

Kepler-1649c hanya membutuhkan 19,5 hari untuk mengorbit bintangnya. Artinya, exoplanet ini bisa saja dihujani pancaran radiasi dari lingkungannya dan mengancam potensi kehidupan di permukaannya. Tapi saat ini belum ditemukan adanya pancaran tersebut.

"Dunia yang menarik dan jauh ini memberi kita harapan yang lebih besar bahwa Bumi kedua berada di antara bintang-bintang, menunggu untuk ditemukan," kata Associate Administrator Science Mission Directorate NASA Thomas Zurbuchen.

"Data yang dikumpulkan oleh misi seperti Kepler dan Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) akan terus menghasilkan penemuan yang luar biasa karena komunitas sains memperbaiki kemampuannya untuk mencari planet menjanjukan dari tahun ke tahun," sambungnya.

Selain temuan di atas, ilmuwan tidak banyak mengetahui soal Kepler-1649c atau atmosfernya, yang bisa mengubah perkiraan tentang atmosfernya. Tapi mereka tahu bahwa ada planet kedua dalam sistem ini, yang jaraknya lebih dekat lagi dengan bintangnya.

Exoplanet ini menambah panjang daftar planet yang memiliki ukuran mirip dengan Bumi. Seperti TRAPPIST-1f yang berjarak 39 tahun cahaya dari Bumi serta TRAPPIST-1D dan TOI 700d yang temperaturnya dinilai sama dengan Kepler 1649-c. (vmp/fay)

Sumber: Detikcom